Citizen

14 HARI MENJADI PENAMBANG EMAS Di PEDALAMAN PAPUA – KISAH YOSI RUPIKORA

Tanah Papua dikenal memiliki kandungan emas yang sangat kaya. Namun untuk menambangnya tak se-indah dan se-gemerlap  ekspektasi orang. Setidaknya inilah pengalaman Yosi Rupikora selama 14 hari bekerja di penambangan emas tradisional di wilayah Kabupaten Yahukimo.

Yosi Rupikora, selama ini dikenal sebagai penyanyi lokal Jayapura dan telah mempunyai album solo. Sehari – hari biasanya ia menyanyi di salah satu café di kawasan Ruko Dok 2 Jayapura.

Entah apa yang sebenarnya melatar-belakangi, hingga ia memutuskan untuk menjajal profesi baru, bekerja di pertambangan tradisional di pedalaman Yahukimo. Ia pun berangkat ke lokasi pertambangan pada pertengahan Agustus 2019.

“Saya di ajak oleh seorang teman untuk bekerja di pertambangan,” ungkap pria berdarah Ambon itu.

Area pertambangan tradisional yang dimaksut berada di sekitar Kali Aghum,  Distrik Seradala, berjarak sekitar 3 jam perjalanan dari Kota Dekai, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki ke dalam hutan.

“Medannya cukup berat, perjalanan akan menjadi lebih lama bila hujan turun sehingga tanah jadi pecek dan sulit dilalui. Itupun kalau tidak banjir,” ungkapnya.

Panjang lebar, bapak dari 2 anak ini berkisah pengalaman yang didapatkan berikut suka dukanya.

Penambang emas tradisional di Pedalaman Yahukimo (Foto: Dokpri Yosi Rupikora)

“Kami naik ke lokasi selama dua minggu, tapi kerjanya hanya 5 hari lantaran hujan jadi tidak bisa kerja. Jika bensin habis juga tidak bisa kerja. Selama 5 hari kerja dapatnya hanya 42 gram saja. Itupun harus dibagi 7 orang. Jika dirupiahkan dapat sekitar 3 juta rupiah saja. Tak sebanding dengan kerja keras dan resiko yang dihadapi,” ungkapnya.

Lebih lanjut Yosi pun menuturkan suka duka yang dialaminya.

“Dukanya tuh, cape angkat batu kemudian buang, duduk dalam pecek dari pagi sampai sore. Kalau hujan tidak bisa kerja, kalau sudah malam pinggang berasa sakit lantaran saya tidak pernah kerja berat seperti itu,” cerita Yosi.

“Pekerjaan ini terlalu menghabiskan banyak tenaga, sakit malaria bisa kumat kalau terlambat makan, tidak bisa telpon karena tidak ada jaringan. Kalau mau telpon jalan naik gunung dengan waktu perjalanan sekitar 2 jam baru bisa telpon. Sepanjang jalan pecek dan dipenuhi kayu – kayu  besar,” lanjutnya.

Penambang emas tradisional di pedalaman Yahukimo

“Sementara rasa sukanya, di sana suasana tenang di malam hari, bisa mendengar kicauan burung cendrawasih waktu pagi dan sore, makan sayur lancar dan tidak ada nyamuk di malam hari,” kata dia.

Selanjutnya Yosi mengatakan bahwa bekerja menambang emas, tak segampang dan seindah anggapan masyarakat.

“Ya begitulah kerja menambang emas, kalau rejeki baik bisa dapat lebih. Tapi kalau tidak, cuma segitu dapatnya karena kami masuk di lokasi bekas penambang lain,” ujarnya.

Yosi memutuskan untuk kembali ke Jayapura, karena beredar berita tentang adanya kisruh di area pertambangan. Ia merasa tidak aman lantas kembali ke Jayapura.

Ketika ditanya apakah ia akan kembali lagi ke lokasi penambangan, sembari tertawa ia menjawab lebih baik menjadi penyanyi saja, kembali kepada job yang selama ini ia tekuni.

Kategori:Citizen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.