Eksotisme Kota Biru Kobakma, Mamberamo Tengah

kobakma - udara31

Pedalaman Papua selalu menarik untuk diceritakan, dan setelah menginjakkan kaki di satu wilayah pedalaman, selalu mendapatkan kesan tersendiri.

Kobakma, adalah ibu kota Kabupaten Mamberamo Tengah, sebuah kabupaten yang terbilang baru, hasil pemekaran dari Kabupaten Jayawijaya tahun 2008 silam.

Dijuluki sebagai kota biru, karena hampir seluruh bangunannya berwarna biru, dan bangunan berwarna biru tersebut hampir semuanya dibangun oleh pemerintah daerah setempat.

Untuk menuju kota Kobakma, jalur yang paling populer ialah menggunakan pesawat kecil dengan kapasitas 8 penumpang; pesawat twin otter. Ada 2 rute penerbangan yang bisa ditempuh yakni Jayapura – Kobakma atau Wamena – Kobakma.

Sementara, untuk jalur darat (trans Papua), memang sudah terbuka, yakni Wamena – Kobakma, namun sepertinya belumlah ramai.

Saya pernah mengunjungi kota ini sebanyak 3X, semuanya menggunakan jalur udara. Sebenarnya cukup penasaran bila perjalanan dilakukan menggunakan jalur darat, namun belum mendapatkan kesempatan itu.

Perjalanan menggunakan pesawat Jayapura – Kobakma pp, sekitar 45 menit lamanya, dan penerbangan dilakukan bergantung pada cuaca. Bisa jadi penerbangan dibatalkan gara – gara cuaca buruk sehingga maskapai pun terpaksa mengambil kebijakan untuk menunda atau membatalkan penerbangan.

pesawat siap mendarat di bandara kobakma1
Pesawat siap mendarat di bandara Kobakma

Pernah satu kali dalam perjalanan pulang, cuaca mendung dan pesawat terbang diantara awan – awan gelap. Alamak…saya deg deg-an setengah mati, karena goncangan dalam pesawat cukup berasa saat melalui celah – celah tebing di antara pegunungan. Setelah pesawat keluar dari cuaca buruk, perasaan menjadi sangat lega terlebih ketika mendarat dengan aman di bandara Sentani, Jayapura. Yang heboh setelah itu, semua penumpang langsung menyalami dan berterima kasih kepada pilot wanita yang membawa pesawat. Pilot ko andalan……!

Ada apa dengan Kobakma? Kesempatan mengunjungi Kobakma sebenarnya untuk memenuhi undangan bapak Bupati Mamteng, dimana saya turut serta bersama rombongan rekan – rekan wartawan dari Jayapura. Yeahh sedikit keuntungan menjadi jurnalis, bisa mengunjungi berbagai daerah di Papua, karena profesi.

Kobakma, adalah satu dari 5 distrik yang ada di Kabupaten Mamteng. Sebagai ibu kota kabupaten, menurut saya Kobakma memiliki tata kota yang bagus. Kesan itu saya dapatkan ketika melihat kota dari udara.

gapura selamat datang mamteng1
Gapura selamat datang Kabupaten Mamberamo Tengah

Beberapa hari tinggal di Kobakma, saya cukup merasakan betapa sulitnya hidup di daerah pedalaman; jangankan tempat hiburan, sehari – hari yang harus dihadapai ialah minim listrik, sulit sinyal dan harga barang yang ekstra mahal. Bayangkan saja, harga air mineral ukuran 600 ml (botol tanggung) mencapai 25rb rupiah, belum lagi barang – barang lainnya, seperti semen, batu bata, dan lain – lain. Hampir semua barang kebutuhan sehari – hari didatangkan dari Wamena atau Jayapura. Semoga kebijakan bbm satu harga dan pembangunan jalan trans Papua kedepan akan mendorong penurunan harga di daerah terpencil.

barak pegawai mamteng1
Barak pegawai Mamteng

Di Kobakma, kami tinggal di barak pegawai, karena belum ada hotel/ penginapan. Barak pegawai ini dibangun oleh pemkab Mamteng diperuntukkan bagi ASN yang bekerja di lingkup pemerintah setempat.

Selama beberapa hari tinggal, saya jadi tahu bahwa untuk kebutuhan air bersih sehari – hari warga mengandalkan air hujan. Setiap rumah di barak pegawai, memiliki bak penampungan air untuk menadah air hujan. Sementara, pemerintah sedang membangun jaringan pipa air bersih untuk disalurkan ke rumah – rumah warga.

Nah, ke-bayang-kan tantangan hidup di daerah pedalaman? By the way, Kobakma adalah kota yang indah. Kabarnya, Mamteng memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa; potensi hutan dan kekayaan bawah bumi yang perlu dikaji lebih dalam lagi.

Dan, saya menulis artikel ini sebagai catatan bahwa saya pernah mengunjungi kota ini. Kenangan indah yang tersimpan dalam hati.

bakar batu kobakma3
Pesta Bakar Batu Masyarakat Kobakma (Foto Dokumentasi Yulika Anastasia)

Baca juga:

Tradisi Bakar Batu, Pestanya Masyarakat Pegunungan Tengah Papua

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s