[Review] Penginapan Dogiyai: Hotel Sederhana di Tengah Kota Kecil Moanemani

Jika Anda melakukan perjalanan ke daerah pedalaman untuk pertama kali karena mendapatkan penugasan dari kantor, urusan bisnis ataupun kegiatan lainnya sementara tidak ada keluarga atau kenalan disana, pastilah akan merasa cukup kebingungan jika harus menginap.

Ini pengalaman saya ketika  mendapatkan penugasan dari kantor ke Kabupaten Dogiyai, di wilayah pegunungan tengah Papua. Beruntungnya, saya berangkat bersama tim yang sebelumnya pernah kesana.

jalan depan penginapan
Jalan di depan penginapan

Selama beberapa hari di Moanemani, kami menginap di Penginapan Dogiyai. Tak banyak penginapan di daerah ini, informasi yang saya dapat hanya ada dua penginapan di tempat ini. Jika kamar penginapan penuh, biasanya rekan saya akan mencari rumah pastoran/ biara yang menyediakan kamar bagi pengunjung seperti kami. Tentu saja seijin mereka.

Berada di kota kecil di pelosok, mendapatkan rumah penginapan, saya merasa bersyukur sekali. Saya tak banyak mengharapkan fasilitas layaknya hotel di kota – kota besar, setidaknya ada tempat untuk melepas penat setelah enam jam perjalanan dari Nabire menggunakan jalur darat.

Penginapan Dogiyai dengan rate harga kamar permalam 300 – 600 ribu rupiah. Kamar nomor 21 yang saya tempati lebih mirip dengan kamar kos – kosan. Luas kamar 2,5 X 2,5 meter dengan tempat tidur sederhana single bed, disediakan meja dan kursi. Dinding kamar dari triplek dan lantai kamar dialas dengan karpet.

Tak semua kamar memiliki kamar mandi dalam, namun tamu tak perlu kuatir karena pemilik menyediakan kamar mandi umum di bagian tengah penginapan. Bicara tentang kamar mandi, saya jadi teringat udara dingin di Dogiyai pada malam dan pagi hari. Bahkan, pada siang hari air di bak kamar mandi terasa dingin seperti air es.

Berhubung pemilik penginapan tidak menyediakan air hangat untuk mandi, terus terang saya berani mandi pada siang hari, upss….saya tidak mandi pada pagi dan malam hari alias mandi sehari sekali saja.

ruang serba guna
Ruang serba guna di bagian tengah

Untuk melawan hawa dingin, penginapan menyediakan air panas (dalam termos), teh, kopi, gula, gelas dan sendok. Jadi, sewaktu – waktu tamu yang menginap bisa membuat minuman hangat sendiri. Pada pagi hari, pemilik juga tidak menyediakan sarapan bagi tamu. Namun tamu tak perlu kuatir, karena di dekat penginapan tersedia warung – warung makan yang buka dari pagi hingga sore/malam hari dengan rate harga yang terjangkau.

Di bagian tengah penginapan, terdapat ruang serba guna, dimana kami biasa berkumpul untuk sekedar ngobrol ataupun meeting singkat membahas jadwal/ agenda kegiatan kunjungan kami.

Satu lagi, listrik di daerah ini belum 24 jam menyala. Terkadang mengalami pemadaman listrik selama beberapa jam.

Untuk mengantisipasi hal – hal yang saya sebut diatas, jika berkunjung ke wilayah pedalaman ada baiknya Anda menyiapkan bekal dengan baik, misalnya saja makan kecil, jaket/ sweater, kaos kaki, powerbank, dan perlengkapan lain sekiranya diperlukan.

Demikian review dari saya, semoga bermanfaat. Salam Traveller!

saya saat berada di lembah kamuu
Saya berdiri dengan latar belakang Lembah Kamuu, terlihat pegunungan yang berselimutkan kabut tebal. (Kabupaten Dogiyai, Juli 2018)

Baca juga:

Jelajah Pedalaman Papua Bag. 1 – Perjalanan Menuju Lembah Kamuu

 

 

 

 

 

8 tanggapan untuk “[Review] Penginapan Dogiyai: Hotel Sederhana di Tengah Kota Kecil Moanemani”

  1. Belum pernah ke papua. Ternyata disana dingin banget ya? Di desa saya juga lagi dingin cuaca saatbini saya pun mandinya siang aja kadang-kadang hehehe. Mau keramas aja takut menggigil jadi dipantengin aja tahan kepala gatal karena nunda keramas. Penginapannya sederhana banget ya, temboknya kok dari triplek?

    Disukai oleh 1 orang

  2. halo jessmite….penginapan yang dimaksut disini adalah penginapan di pedalaman Papua. Kalau di kota besar seperti Jayapura, dari yang sederhana sampai yang mewah juga ada. Salam kenal

    Suka

    1. di wilayah pegunungan tengah dingin sekali, kalau di pesisir pantai panasnyaaa minta ampun. Kalo di tempat dingin, nggak berkeringat, kalau nggak mandi juga nggak ada yang tahu xixixiiiiiiii

      Suka

    1. halo mbak rahma….dinginnya seperti ruang ber-ac 16 – 18 derajat. Wilayah yang dingin ada di pegunungan tengah papua. Kalau di pesisir pantai panasnyaaa minta ampun. Yaa kapan2 mbak main ke Papua biar dream comes true hehehee. Salam hangat dari Jayapura

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s