Balada Cendrawasih, Kisah Cinta yang Berakhir Duka diangkat dalam Tarian

20526127_10212704942196922_68717175963082098_n

Cendrawasih dikenal sebagai burung yang sangat elok parasnya. Warna – warna yang cerah; kuning, coklat, hijau dan putih, cantik menawan mewarnai bulu – bulunya. Namun kecantikan dan keanggunan yang dimilikinya justru membawa bencana.

Alkisah, di tengah hutan belantara hiduplah sekelompok burung cendrawasih.

pengintai_balada cendrawasih
Burung Pengintai

Mereka hidup harmonis ditengah alam yang berlimpah dengan sumber makanan dan sumber kehidupan.

Hari – hari berlalu dalam kegembiraan, setiap hari burung – burung cendrawasih menari dan menyanyi, hinggap di dahan – dahan pohon tanpa prasangka ada bahaya yang mengintai.

Seperti biasanya, pada suatu pagi yang cerah burung cendrawasih pengintai bermain di ranting – ranting pohon yang tinggi. Terkadang mereka hinggap di pohon yang tinggi, dan sesekali turun dan hinggap di dahan yang rendah.

Sinar matahari menyusup diantara rerimbunan dedaunan, dan angin yang berhembus sepoi – sepoi seakan membisikkan kata: kedamaian ini akan tetap abadi. Burung pengintai pun bersiul dan berkicau, memberi pertanda bahwa semua aman, tak ada hal yang perlu dikhawatirkan.

Tak lama berselang, munculah cendrawasih raja dari balik rerimbunan pepohonan. Ia bernyanyi, menari dan menggoda sang permaisuri yang muncul dari sisi lainnya. Ketampanan cendrawasih raja dan keanggunan ratu cendrawasih, selaras dengan suaranya yang merdu bersahut – sahutan membawa kebahagiaan bagi seluruh penghuni hutan. Biarlah cinta kita menyatu bersama alam, biarlah percintaan ini akan menjadi kisah abadi!

Ketika dua sejoli bertemu dan bersatu dalam cinta yang membara, semesta pun ikut bergembira. Hutan dan segala isinya larut dalam kebahagiaan yang sulit untuk diungkapkan dengan kata – kata.

Arggghhh…………tak ada yang menyangka anak panah si pemburu terlepas dari busurnya menghujam secepat kilat, tepat di dada cendrawasih raja. Darah merah tercurah seketika dan membuat roboh insan yang tengah berada di puncak asmara.

Mendadak hutan rimba menjadi hening seketika, suara nyanyian yang riang gembira digantikan perlahan digantikan dengan syair pilu yang menyayat kalbu. Terdengar lirih ratapan sang ratu yang kemudian bergema seluruh penjuru hutan.

Mengapa semesta begitu tega memisahkan dua insan yang saling mencinta. Cinta tak lagi ada, dunia berasa hampa. Bawalah aku bersamamu ke nirwana, hai kekasih jiwaku.

tarian balada cendrawasih7
Ratapan Cendrawasih

 

Mendengar rintihan dan tangisan sang ratu, hutan dan seisinya  ikut merasakan duka nestapa. Daun – daun berguguran, angin berhembus kencang dan langit pun mencurahkan air mata kesedihan.

Seakan tak peduli dengan guyuran hujan yang membasahi bumi, kepak sayap sang ratu kokok memayungi tubuh yang sudah membujur kaku.

Dari kejauhan, sepasang mata mengawasi sepasang kekasih yang baru dipisahkan oleh maut. Dia-lah sang pemburu. Ada rona penyesalan di raut wajahnya. Sorot mata yang tajam perlahan berubah menjadi sorot penyesalan. Tubuh yang kekar tertunduk lesu, tak berdaya mendengar suara tangisan pilu.

Akh, mengapa aku melakukan hal itu. Hai sang waktu, andaikan dapat terulang kembali aku ingin meminta kembalikan masa – masa indah itu.

tarian balada cendrawasih6
Tarian Balada Cendrawasih. (Foto: Dokumen Yulika Anastasia)

Sementara si pemburu dirundung penyesalan, terdengar kepakan – kepakan sayap burung yang terbang berputar mengitari dua sejoli yang telah terpisahkan. Seolah – olah mereka hendak mengatakan: ‘ijinkan kami bersamamu hai sang ratu, kesedihan ini bukan hanya milikmu. Kami bersamamu”

Selanjutnya burung – burung itupun membawa tubuh yang telah terbujur kaku, terbang ke angkasa, dan dalam sekejap mata menghilang dari pandangan.

Dengan mata nanar dan tangisan penyesalan yang dalam, terdengar bergetar suara si pemburu: Terbanglah, terbang menuju kebebasanmu burung – burung surga. Anak panah terlanjut terlepas, dan busur ini aku patahkan, agar kelak anak cucuku tak lagi memburumu. **End**

Note: tarian balada cendrawasih sangat dikenal di Papua, terinspirasi dari perilaku burung cendrawasih di habitatnya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s