Jelajah Pedalaman Papua Bag. 7 – Pengalaman Terjebak Longsor Selama 4 Jam

Perjalanan menjelajah wilayah adat Meepago (Nabire, Dogiyai, Deiyai dan Paniai) adalah perjalanan yang sangat menyenangkan.

Gambaran secara umum adalah jalan telah teraspal secara bagus, meski di beberapa titik mengalami kerusakan. Yang paling menyenangkan ialah terbebas dari kemacetan dan mendapatkan bonus pemandangan yang sangat indah.

Namun “tak ada gading yang tak retak”. Inilah yang kami alami saat perjalanan kembali dari Paniai menuju Nabire, pada Selasa (10/7). Di km 136 badan jalan tertutup  longsor, sehingga kendaraan yang dari arah Nabire maupun dari arah Dogiyai tak bisa lewat sama sekali. Akibatnya antrian panjang kendaraan di kedua sisi mencapai beberapa kilometer.

terjebak macet
Kemacetan akibat longsor

Terjebak macet, ini adalah pengalaman yang sangat menyebalkan. Bayangkan saja, perjalanan terhambat akibat longsor yang menutup badan jalan di daerah blank spot alias tidak ada sinyal telepon.

Saya mengalami bagaimana warga harus berjam – jam menunggu kendaraan alat berat tiba. Notabene harus ada seseorang yang bergerak melaporkan adanya kejadian longsor kemudian ada pihak yang berusaha menghubungi dan mengerahkan alat berat. Ribet!

Menurut sopir yang mengantar kami, longsor cukup sering terjadi di daerah ini di titik – titik yang berbeda. Nah!! Saya jadi membayangkan konektivitas sangat penting, namun akses komunikasi juga tidak kalah penting.

Menghadapai situasi seperti ini saya hanya pasrah saja menunggu pertolongan alat berat datang dan mendengar informasi dari mulut ke mulut kapan alat berat tiba. Di sisi lain, saya melihat anggota ( Polisi dan TNI) yang turun tangan saat itu cukup kesulitan mengatur lalu lintas. Panjangnya antrian kendaraan ditambah dengan timbunan yang cukup tinggi menutup badan jalan sangat menyulitkan.

alat berat
Alat berat saat membersihkan lumpur

Bosan!! Rasa bosan dan lapar pun mendera saat menunggu berjam – jam. Rupanya bukan saya saja yang merasa bosan, namun orang dewasa lainnya dan anak – anak. Mungkin karena bosan duduk dalam mobil, anak – anak pun terlihat turun dari mobil dan berlarian meski jalanan pecek/ penuh lumpur.

Akhirnya setelah tiga jam menunggu tanpa kepastian, akhirnya alat berat pun muncul. Dan, untuk satu jam berikutnya alat berat sibuk membersihkan lumpur dan material longsoran yang menutup badan jalan.

Beruntung, sopir yang membawa kami sangat gesit, sehingga setelah material dibersihkan mobil yang kami tumpangi bermanuver di antara kendaraan lain yang antri untuk lepas dari kemacetan.

Perjalanan dari Dogiyai – Nabire normalnya ditempuh dalam waktu 6 jam perjalanan, namun karena terkena longsor dan macet selama 4 jam perjalanan, durasi waktu yang kami perlukan untuk sampai ke Nabire total sekitar 10 jam perjalanan. Hmmm…cukup melelahkan!

Baca:

Jelajah Pedalaman Papua Bag. 6 – Paniai on The Spot

Jelajah Pedalaman Papua Bag 5 – Moanemani – Waghete, I’m in Love

 

One thought on “Jelajah Pedalaman Papua Bag. 7 – Pengalaman Terjebak Longsor Selama 4 Jam”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s