Jelajah Negeri

38 Tahun Esebius Mote Budidaya Anggrek Emas Secara Mandiri

Saya ingin noken anggrek terkenal hingga seluruh dunia (Esebius Mote)

Kampung Kitakebo, Distrik Mapia, Kabupaten Dogiyai, Sentra Perkebunan dan Pengrajin Noken Anggrek

Noken anggrek telah dikenal sebagai noken yang sangat istimewa dari Papua. Bukan hanya harganya yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan noken lainnya namun juga nilai gengsi atau ‘prestise-nya’. 

Didaerah asalnya, noken anggrek tidak dikenakan oleh semua orang. Noken ini hanya digunakan oleh orang – orang dengan status sosial yang tinggi atau orang berada. Noken anggrek sering dikalungkan kepada tamu kehormatan sebagai tanda penyambutan dan simbol penerimaan.

Berbicara tentang noken anggrek, mungkin belum banyak yang mengenal, Esebius Mote, pria berusia 70-an tahun asal Kampung Kitakebo, Distrik Mapia Barat, Kabupaten Dogiyai yang mempunyai jasa yang sangat besar dalam hal budidaya anggrek hutan sebagai bahan dasar noken anggrek.

Kampung Kitakebo, termasuk wilayah Distrik Mapia Barat, Kabupaten Dogiyai. Wilayah ini terbilang wilayah pedalaman. Lokasinya dapat diakses melalui jalur darat menggunakan kendaraan dobel gardan dari Moanemani, ibu kota kabupaten Dogiyai dengan waktu sekitar 3 jam perjalanan. 

Itu pun bergantung dengan faktor cuaca. Jika hujan tiba dan aliran air memenuhi Sungai Pogi, maka kendaraan tidak bisa tembus. Sementara ini belum ada jembatan yang dibangun diatas kali ini, sehingga satu – satunya cara agar bisa tembus ke daerah ini ialah kendaraan roda empat harus turun menyebrangi Sungai Pogi yang berbatu – batu besar. 

Selain itu kondisi infrastruktur jalan yang ada terbilang medan yang berat, sebagian besar jalan rusak parah dan belum teraspal.

Kampung Kitakebo berada di ketinggian dengan curah hujan yang tinggi, dingin dan berkebut. Rata – rata masyarakat hidup dengan cara berkebun atau berburu. Disinilah sentral perkebunan anggrek rakyat, yang menjadi bahan baku noken anggrek, sekaligus para pengrajin anggrek kebanyakan berasal dari daerah ini.

Jauh – jauh hari sebelum noken anggrek dikenal seperti saat ini, pengrajin harus masuk jauh ke dalam hutan rimba untuk mencari bahan baku noken anggrek. Anggrek hutan dengan batangnya yang berwarna kuning keemasan dan anggrek hitam, biasanya tumbuh menempel di batang – batang pohon yang tinggi.

Bapak Esebius Mote saat diwawancara kru Imaji Papua

Esebius Mote, adalah orang pertama yang berhasil membudidayakan anggrek dan membagikan pengetahuannya tentang budidaya anggrek kepada warga lainnya, sehingga kini bahan baku noken anggrek tak sesulit dulu.

Esebius sendiri telah membudidayakan anggrek dilahan miliknya seluas lebih kurang 11 hektar. Kebun seluas itu ia rawat sendiri. Batang – batang anggrek yang ia panen kemudian dijemur atau diletakkan dekat perapian agar kering. Setelah kering batang anggrek ini kemudian dibelah/diserut menggunakan pisau yang tajam untuk menghasilkan serat. Selanjutnya serat batang anggrek ini kemudian dipilin/dililit di serat kulit kayu untuk menghasilkan benang yang akan dianyam menjadi noken anggrek.

Di jumpai di rumahnya yang sederhana, Bapak Esebius Mote menuturkan bahwa dirinya bukanlah orang pertama yang menganyam noken anggrek. Ia belajar menganyam noken anggrek dari warga lainnya, Kidabi Gobai.

Setelah Esebius Mote belajar membuat noken anggrek, ia menyadari sulitnya mendapatkan bahan baku untuk membuat noken. Kemudian ia pun coba – coba ‘menjinakkan’ anggrek hutan ditanam dilahannya. Tak disangka, upaya ini berhasil dan alhasil ia pun mulai membudidayakan tanaman anggrek. 

Esebius, pria tua sederhana yang selalu mengenakan koteka dan noken yang tak pernah lepas dari badannya, dengan rendah hati mengatakan pengetahuan ini tidak ia simpan sendiri. 

Selanjutnya ia pun mulai mengembangkan bibit anggrek dan membuat koker tanaman anggrek. Bibit – bibit anggrek kemudian dibagikannya kepada warga dusunnya. Tak hanya itu ia pun membagikan pengetahuan bagaimana anggrek hutan dibudidayakan. Kini cukup banyak warga Distrik Mapia Barat  yang turut berkebun anggrek dan menjadikannya sumber pendapatan mereka.

Noken Anggrek

“Saya ini bukan seorang ilmuwan. Saya mulai tanam bibit anggrek karena panggilan hati. Kami mau anggrek dan noken anggrek Mapia Barat terkenal ke seluruh penjuru dunia,” harapannya.

Lebih jauh lagi ketika ia ditanya sejak kapan dirinya mulai membudidayakan anggrek, Esebius Mote pun membuka nokennya dan mengambil selembar catatan tua dan membacakannya.

“Saya tanam anggrek tanggal 20 bulan 3 tahun 1984, hari Senin sudah mulai tanam,” ungkapnya.

Selama 38 tahun ini, Esebius Mote tetap setia membudidayakan tanaman anggrek. Ia juga mengenal dengan baik berbagai jenis anggrek hutan yang tumbuh dikebunnya.

Bahan baku noken anggrek, yakni batang anggrek yang telah dikeringkan dijual kepada pengrajin di dusunnya dengan kisaran 100rb – 200rb rupiah.

Tanaman anggrek hutan, batangnya dimanfaatkan sebagai bahan baku benang noken anggrek

Seiring populernya noken anggrek dan ketersediaan bahan baku, jumlah pengrajin pun bertambah. Khusus untuk noken anggrek, biasanya dianyam oleh kaum pria. Anak – anak muda disekitar tempat tinggal Esebius membentuk kelompok dan mereka menganyam bersama.

“Bahan baku noken anggrek ada, tapi kami terkendala soal pemasaran. Jadi selama ini hanya disimpan hingga pembeli dari kota datang atau kami bawa ke kota,” kata seorang pemuda desa.

“Disini juga tidak ada sinyal telepon, untuk komunikasi harus berjalan cukup jauh sampai dapat sinyal untuk lihat pesan masuk siapa tahu ada yang pesan,” lanjutnya.

Seorang pemuda gereja bernama Pius Tebay melihat anggrek dan noken anggrek sebagai potensi daerah Kabupaten Dogiyai, selain kopi dan buah merah. Ia mengharapkan dukungan kepada semua pihak yang memiliki hati dan kepedulian untuk pengembangan kebun anggrek di daerah ini.

“Kami sedih dan prihatin atas kehidupan warga/jemaat dikawasan ini. Untuk itu kami berharap mendapat dukungan dari siapa saja, baik Pemerintah Daerah, BUMN, swasta atau dermawan untuk pengembangan kebun anggrek, pembibitan dan perawatan,” harapnya.

Senada dengan hal tersebut, Vitalis Uwiya, pemuda Kampung Kitakebo berharap pemerintah bukan hanya mengadakan acara seremonial semata, tetapi aksi nyata mendukung para pengrajin noken anggrek.

“Kami berharap ada pembinaan dari hulu ke hilir, yakni dari petani seperti Bapak Esebius dkk dan para pengrajin lainnya,” katanya.

Sebagai catatan untuk membudidayakan anggrek membutuhkan waktu dalam hitungan tahun. Dari tunas hingga panen membutuhkan sedikitnya 5 – 6 tahun, sehingga dibutuhkan kesabaran ekstra untuk merawat dan membudidayakannya.

Harga noken anggrek dipasaran dikisaran jutaan rupiah hingga belasan juta rupiah, bahkan ada yang dijual dengan harga puluhan juta rupiah. Hal ini dinilai wajar oleh sebagian masyarakat mengingat bahan baku dan proses pembuatan yang tidak mudah. Untuk menganyam satu buah noken anggrek pengrajin membutuhkan waktu sekitar 1 – 3 bulan.

Kategori:Jelajah Negeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.