Geliat ekonomi kreatif anak muda Papua unjuk gigi lewat ajang Impact Papua. Peluncuran film dokumenter “Tong Masih di Sini” menjadi tonggak gerakan kolaboratif di Jayapura sebagai bukti bahwa masa depan dan pembangunan daerah ada di tangan generasi muda.
Impact Papua digelar di pelataran Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih. Ajang ini menjadi arena anak muda Papua sebagai motor penggerak perubahan.
Wadah kolaborasi ekonomi kreatif di Jayapura ini mempertemukan sineas, fotografer, ilustrator, musisi, hingga pelaku UMKM lokal yang bersatu memperkuat ekonomi berbasis komunitas.
Puncak acara ditandai dengan peluncuran film dokumenter berdurasi 33 menit berjudul “Tong Masih di Sini” karya sutradara Yulika Anastasia dari Imaji Papua.

Film ini merekam denyut nadi rantai ekonomi serta kearifan lokal melalui kisah para pemuda yang menjadi petani kopi, petani sagu, pedagang pinang, hingga petani sayur-mayur.
Karya garapan Yulika ini menjadi pemantik semangat bahwa pembangunan daerah ada di tangan masyarakat biasa dan anak muda yang mau bergerak bersama.
“Tujuannya cuma satu, kalau kita berkolaborasi, kita akan jauh meyakinkan semua pihak, bisa bergandengan tangan, dan tumbuh bersama. Hari ini kita tidak bisa jalan sendiri-sendiri,” kata Yulika.
Sebagai Head of Imaji Papua, Ika menyampaikan bahwa gerakan Impact Papua berhasil menyatukan berbagai simpul kreatif anak muda dalam satu visi bersama.
Panggung mode turut menyedot perhatian melalui karya lima desainer berbakat Papua yang mengusung konsep kontemporer berbasis tradisi lokal. Mereka adalah Agusta Bunai, Pretty Syul Rogi, dan Margaretha Uktoselya asal Wamena, Kabupaten Jayawijaya, serta Lusi Umbora dan Alfianty Mandosir asal Kota Jayapura.
Salah satu desainer, Agusta Bunai, sukses mengolah rakitan rajutan handmade Mama-Mama Papua menjadi busana high-fashion.
“Selama ini ruang bagi desainer dan model lokal masih minim. Panggung Impact Papua menjadi kesempatan besar untuk memamerkan karya, meningkatkan nilai ekonomi produk lokal, sekaligus menambah jam terbang kami,” kata Agusta.

Keindahan dan dinamika Papua juga dipotret secara visual dalam pameran fotografi. Ada 240 foto terkurasi dari 34 fotografer muda Papua. Pameran tersebut memotret pesona alam, denyut ekonomi, tradisi, hingga dinamika pembangunan dari sudut pandang para kreator lokal.
Koordinator Pameran, Yosin Kogoya, menyampaikan bahwa ratusan bingkai foto tersebut dihadirkan untuk mengajak publik merasakan kisah nyata kehidupan masyarakat Papua secara langsung.
Potensi besar serta kemampuan adaptasi media para pemuda Papua ini mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Kota Jayapura. Staf Ahli Bidang SDM dan Kemasyarakatan Pemkot Jayapura, Sem Meraudje, menyebut bahwa kemampuan anak muda Papua memanfaatkan media kontemporer sudah tidak bisa dipandang sebelah mata.
“Tong masih ada di sini, tra habis! Daya cinta itu masih ada, kita masih bisa bangkit dan terus berkarya. Keberadaan kita membawa nilai-nilai positif bagi tanah ini,” kata Sem Meraudje.
Sem menjelaskan bahwa meski Papua telah dimekarkan menjadi beberapa provinsi, identitas kekayaan alam, budaya, seni rupa, hingga musik Papua tetap mengakar kuat.
“Anak-anak muda Papua semakin cerdas dan adaptif memanfaatkan platform digital, film, media sosial, hingga seni audio-visual untuk menceritakan realitas dan keindahan tanah Papua secara utuh kepada dunia,” katanya.
Pemerintah Kota Jayapura berharap ekosistem kreatif ini terus mendapat dukungan berkelanjutan agar karya-karya berkelas yang lahir tidak hanya merawat identitas daerah, tetapi juga siap bersaing di kancah nasional maupun internasional. 
Editor:Edhie Prayitno Ige
(Sumber: RMOL Jateng)
Kategori:News





