Culture

Bukhere Teknik Menangkap Ikan Secara Tradisional di Sentani

Bukhere dalam bahasa Sentani berasal dari kata bhu yang artinya air danau Sentani dan khere yang berarti pagar tempat ikan di kurung dan tinggal dalam kayu sagu yang ditancapkan ke dasar danau. Bukhere juga disebut rumah ikan/ sarang ikan.

Hasil tangkapan ikan dari bukhere Danau Sentani

Teknik memasang perangkap ikan dengan Bukhere sudah dilakukan oleh masyarakat Sentani sejak turun temurun. Mulai dari memasang perangkap hingga memanen diperlukan waktu sekitar 3 – 4 bulan.

Pagi itu aktivitas warga Kampung Yoka, Waena, Kota Jayapura terlihat lebih semarak dari hari biasanya. Sekelompok warga tengah sibuk membuat panggung di halaman kantor kampung, sementara kemeriahan lainnya terlihat di pinggir Danau Sentani.

Ya, pagi itu warga masih dalam suasana rangkaian peringatan HUT Kampung Hebheibulu Yoka ke 66 tahun yang jatuh pada 3 Januari 2021 serta kegiatan buka tahun yang diselenggarakan pada 29 Januari 2021. Acara tahunan ini memang rutin diadakan di kampung, diisi dengan doa bersama, yospan dan makan bersama. Dan sebagai bagian dari persiapan acara ini warga telah membuat bukhere pada bulan November 2020.

“Bukhere menurut tradisi dibuat untuk kegiatan – kegiatan besar di kampung, misalnya HUT Kampung Yoka, pesta kebun dan pembayaran mas kawin,” terang Edwin Epa.

Bukhere oleh warga kampung secara gotong royong. Bukhere terbuat dari kayu pilihan yakni kayu boa atau kayu wonggi (sejenis nibun kecil dalam bahasa Sentani) ditancapkan ke dasar danau. Kemudian di dalam bukhere ditaruh kayu besar melingkar dan dicelah – celahnya diletakkan anyaman daun sagu. Agar lebih kuat bukhere diikat menggunakan tali rotan.

“Kita ambil daun sagu atau daun kelapa dan kelapa kering dimasukkan ke dalam agar padat supaya ikan datang bersarang,” tuturnya.

Dengan cara ini, menurut Edwin Epa, ikan – ikan danau akan bersarang di sekitar bukhere hingga waktu panen tiba sekitar 3 – 4 bulan.

Tampak seorang warga bernama Edwin Epa sedang molo (menyelam) mencari ikan dalam air

Ketika panen tiba proses penangkapan ikannya pun cukup unik. Warga mempersiapkan akar tuba (olomali) direndam dalam air selama satu bulan.

“Olomali/ akar tuba ini mempermudah kita untuk menangkap ikan. Caranya dengan menaburnya ke dalam air dengan mempertimbangkan arah arus,” katanya.

Tak lama berselang setelah akar tuba di tabur kedalam air, ikan – ikan di danau pun terlihat mengapung di air dan sejumlah warga termasuk diantaranya anak – anak bergegas memanen ikan. Beberapa menggunakan perahu dayung dan ada pula yang berenang. Semuanya larut dalam kegembiraan memanen ikan.

Seorang Mama dengan bangga menunjukkan hasil tangkapan mereka yang berjumlah beberapa ember.

“Di sini kami menyebutnya ikan louhan (red devil fish), bisa dimasak dengan cara digoreng saus sambal,” katanya.

Sebagai catatan ikan louhan (red devil fish) sebenarnya bukan ikan endemik danau Sentani namun ikan jenis ini banyak ditemukan diperairan danau Sentani.

Kategori:Culture

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.