Advertorial Photography

Karena Dingo Anjing Purba, Yayasan Somatua dan Universitas Cenderawasih Teken MoU

Dingo adalah spesies anjing liar yang memiliki ciri umum seperti serigala dan anjing modern. Dijuluki New Guinea Singing Dog karena anjing jenis ini tidak meng-gonggong seperti anjing pada umumnya atau melolong seperti serigala, namun meng-gonggong dengan melodi sehingga mirip seperti sedang bernyanyi.

Dingo ditemukan di ketinggian 3000 mpdl yakni di kawasan Grasberg dan Puncak Carstenzs, Kabupaten Intan Jaya. Beberapa waktu lalu keberadaan Dingo di kawasan tersebut menghebohkan para peneliti, karena diperkirakan telah punah.

Namun bagi Suku Moni yang mendiami kawasan Ugimba, sekitar kawasan Grasberg dan sekitar Pegunungan Carstensz, dingo adalah penjaga Puncak Carstenzs.

Maximus Tipagau, tokoh Papua asal Suku Moni, menyebutkan bahwa dingo adalah nenek moyang sukunya, tuan tanah penjaga Carstensz.

Kisah tentang dingo di tengah Suku Moni, kata Maximus, diceritakan dingo mempunyai kekuatan mistis.

“Dingo kalau malam hari bisa berubah jadi manusia dan pada siang hari dia seperti anjing biasa. Dia bisa makan manusia, tetapi bukan langsung datang makan manusianya, dia kirimkan angina atau es terlebih dahulu, baru secara alamiah orangnya tewas atau tertidur, baru dingo datang makan. Tetapi orang tertentu yang dianggap musuh, biasanya marga – marga lain. Sementara marganya kami, dia berbagi kasih, dia datang minta makan. Hebatnya dia bisa kumpul di suatu gunung dan bernyanyi,” tutur Maxi.

Informasi tentang jumlah populasi dingo, bagaimana siklus hidup, perilaku dan genetiknya terbilang masih minim informasi. Oleh karena itu, Maximus Tipagau melalui yayasan yang dipimpinnya yakni Yayasan Somatua mendorong kerjasama dengan Akademisi Universitas Cenderawasih Jayapura agar dilakukan penelitian lebih lanjut tentang dingo.

Dan, pada 3 November 2020, Yayasan Somatua melakukan penandatangan kerja sama penelitian dingo dengan Universitas Cenderawasih Jayapura. MoU ditandatangi oleh Direktur Yayasan Somatua Maximus Tipagau dan Rektor Uncen DR. Ir. Apolo Safanpo, MT.

Peneliti dari FMIPA Uncen, DR Suryani Surbakti, MSi menyambut baik kerja sama ini. Ia mengatakan pada tahun 2018, pihaknya pernah melakukan penelitian tentang wilayah edar, perilaku dan penelitian genetik dingo.

“Dari DNA, New Guinea Singing Dog berbeda dengan ras anjing jenis lain ataupun singing dog yang hidup di dataran rendah,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan perlu dilakukan lebih lanjutnya mengenai ekologi, perilaku reproduksi, perilaku sosial dan jumlah populasi untuk menentukan statusnya sebagai binatang langka atau tidak langka serta langkah untuk perlindungannya.

Ia juga mengatakan area penelitian (Grasberg dan Puncak Carstenz) adalah wilayah dengan medan yang sangat sulit.

“Kita harus kerjasama melanjutkan kajian terus menerus dan melibatkan putra – putra Papua, lebih lagi wilayah tersebut bukan wilayah yang nyaman karena ketinggiannya, curam dan membutuhkan fisik yang kuat untuk mencapai wilayah itu. Gak semua orang mampu untuk mencapai wilayah tersebut,” katanya.

Yayasan Somatua adalah Lembaga Swadaya Masyarakat yang berdiri pada tahun 2012 dan bergerak dibidang pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, pariwisata dan konservasi dengan area pelayanan Kabupaten Intan Jaya dan sekitarnya.

Mou Yayasan Somatua – Universitas Cendrawasih Jayapura, 3 November 2020

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.