Culture

Naita, Tradisi Timba Cacing Laut Masyarakat Kampung Kayobatu

“Prosesi sebelum pengambilan naita itu harus ada ritual. Kalau orang tua jaman dulu, yang akan mengambil naita tidak boleh ada hubungan suami – istri selama lebih kurang tiga bulan. Terpisah perempuan dan laki – laki,” ungkapnya

Kampung Kayobatu, Kota Jayapura

Laor (Polychaeta) adalah sejenis cacing laut, biasanya muncul saat purnama pasang tertinggi dan hanya muncul di daerah pantai berkarang.

Setiap tahun masyarakat nelayan Kampung Kayobatu, Kota Jayapura menjalankan tradisi menimba cacing laut atau dalam bahasa lokal disebut naita.

Tahun ini tradisi menimba naita dijalankan di penghujung bulan Oktober 2020. Menurut Tokoh Adat Kampung Kayobatu, Bapak Niko Makanuay, setiap tahun naita ditimba antara bulan Oktober – November. Tanggal persisnya tidak dapat ditentukan, tergantung posisi bulan.

“Kalau bulan Oktober sudah ditimba, berarti November tidak bisa ditimba lagi begitu juga sebaliknya,” terangnya.

Lebih lanjut, Niko Makanuay menjelaskan sebelum memanen cacing laut ada ritual yang wajib dijalankan.

“Prosesi sebelum pengambilan naita itu harus ada ritual. Kalau orang tua jaman dulu, yang akan mengambil naita tidak boleh ada hubungan suami – istri selama lebih kurang tiga bulan. Terpisah perempuan dan laki – laki,” ungkapnya.

Syarat lain yang harus dipenuhi untuk mengambil naita ialah tidak boleh ada masalah keluarga, istri dalam keadaan tidak hamil dan memiliki hati yang bersih.

Laor/cacing laut/naita

Sore itu kelompok nelayan yang hendak mengambil naita sibuk mempersiapkan  peralatan, yakni wadah/ ember, lai – lai atau serok yang terbuat dari jaring dan alat penerangan.

“Hanya pria yang boleh pergi menimba naita.  Pada saat kesana ada nyanyian yang dinyanyikan agar cacing muncul untuk ditimba,” terangnya.

Niko menambahkan tradisi ini hanya setahun sekali. Hasil yang didapatkan sesampainya dikampung akan dibagikan pula kepada keluarga yang tidak bisa pergi menimba.

Bakwan naita

Naita memiliki kandungan nutrisi yang tinggi. Di kampung biasanya naita dimasak dengan cara direbus menggunakan bumbu, dicampur dengan sagu dan kelapa menjadi sagu naita, dimasak dengan sayur atau dibikin bakwan naita.

Menurut tradisi Kampung Kayobatu ada satu hal yang unik tentang naita yakni naita atau cacing laut tidak boleh dipegang langsung menggunakan tangan. Naita biasanya dipegang menggunakan garpu.

Kategori:Culture

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.