Citizen

Review Buku Frans Lieshout, OFM “Gembala dan Guru Bagi Papua”

Lima puluh enam tahun saya mengabdi di Tanah Papua, Balim tetap merupakan cinta pertama di antara semua tempat dimana saya pernah berkarya. Bidogai sudah menjadi cinta kedua, dan memang saya merasa berat dan sedih untuk melepaskannya. Semoga Bangsa Papua menerima berkat dari umat manusia di dunia ini. Saya tidak punya kekuatan lagi. Hiduplah Papua. Amin! (Frans Lieshout, OFM)

Pastor Frans Lieshout, OFM bukan misionaris biasa. Dia adalah Sang “Ap Kain”, sebuah sebutan kehormatan yang dilekatkan bagi Pemimpin yang dinilai berhasil menyatukan umat Katholik Lembah Balim.

56 tahun mengabdi di Tanah Papua, Frans Lieshout telah meleburkan dirinya dan menyatu secara spiritual dan kultural dengan umat Katholik. Ia juga selalu berupaya menghadirkan nuansa liturgi dengan warna inkulturasi dalam tubuh gereja Katholik Papua. Kehadirannya di tengah umat dan selalu menyapa mereka dengan bahasa ibu mereka, menyentuh relung hati terdalam.   Tak heran ia juga disebut sebagai antropolog Papua meski tak memiliki latar belakang pendidikan formal antropologi. Kesan mendalam umat terhadap Frans Lieshout OFM dikisahkan di seluruh bagian buku ini.

Frans Lieshout OFM, (Almarhum) saat Perayaan 50 tahun Gereja Katolik Keuskupan Jayapura. Foto: Dok. Imaji Papua

Buku Berjudul Pastor Frans Lieshout, OFM Gembala dan Guru Bagi Papua, kesaksian Pimpinan Gereja, Sahabat, Keluarga dan Anak Cucu Rohani, terdiri dari beberapa bagian, Sekapur sirih dari Tim Kerja Duka Frans Lieshout, OFM, Pengantar dan Isi Buku.

Di bagian Sekapur Sirih menceritakan waktu kematian Almarhum, tempat kematian Almarhum, Misa Requem dan pemakaman almarhum di Belanda dan khususnya di Papua, setelah mendengar kabar Duka diputuskan membentuk Tim Kerja serta Doa duka (Warekma) diberbagai tempat di Papua.

Bagian  Kata Pengantar menjelaskan profil singkat almarhum Frans Lieshout, OFM, dan mengisahkan secara rinci pertama kali Ia tiba di Bumi Cenderawasih Tanah Papua dan masa pengabdian di Tanah Papua.

Kepergian Almarhum Pastor Frans Lieshout, OFM, menyisakan kenangan dan refleksi mendalam dari kisah-kisah hidupnya. Buku ini memaparkan bagaimana ia bersentuhan dengan Papua yang dimulai dari  Waris Dekenat Keerom kemudian ia menjabat sebagai Sekretaris Dua di Keuskupan Jayapura. Selanjutnya selama  33 tahun menjadi Gembala dan Pastor paroki, 10 tahun bekerja sebagai guru  dan rektor dan 12 tahun menikmati masa pensiun dan membantu tenaga pastoral di Dekenat Jayawijaya, Tanah Orang Hubula.

Dibagian awal Buku Pastor Frans Lieshout OFM, menceritakan kiprahnya di Papua. Kehadiran Pastor Frans Lieshout OFM dinilai sangat berarti dan berkontribusi besar. Kehadiran Pastor melakukan tugas pengembalaan berlandaskan semangat spritualitas Fransiskus yakni sederhana dalam pelayanan dan kesetiaan pada panggilan serta taat pada pimpinan ordo maupun hirarki. Pastor Frans Lieshout OFM bukan hanya berkotbah dan perayaan Ekaristi tentang Yesus Kristus sebagai puncak pelayanan iman kristian, melainkan menjadi saksi Kristus yang Hidup ditengah Umat-Nya.

Buku Pastor Frans Lieshout, OFM “Gembala dan Guru bagi Papua” terdiri dari 10 Bagian. Bagian Pertama adalah tulisan kesaksian Uskup Jayapura Leo Labaladjar OFM, diikuti tulisan dari Imam Projo, Diakon dan Frater.

Di bagian kedua kita akan membaca kesaksian Saudara – Saudara Dina, OFM Provinsi Duta Damai Papua. Bagian ketiga, kesaksian Pemimpin Gereja, Tokoh Politik, Awam Katolik, Intelektual dan Peneliti. Keempat, kesaksian Para Tokoh Adat, Gereja, Intelektual Hubula-Balim. Kelima, kesaksian Migani-Dugindoga-Kemandoga Kabupaten Intan Jaya.

Di bagian keenam, kesaksian Biarawati , Tokoh Perempuan dan Perempuan muda . Ketujuh, Kesaksian Para Mantan Siswa  SPG Teruna Bhakti Waena. Delapan, kesaksian Keluarga Lieshout di Belanda Dan Keluarga Wetipo Alua di Musafak, Wamena. Kesembilan, Ungkapan hati Buat Pastor Frans Lieshout, OFM dan diakhir dengan Penutup.

Ada satu bagian yang sangat menarik dalam buku ini. Kesan mendalam tentang Frans Lieshout OFM diungkap oleh Uskup Jayapura Leo Labaladjar OFM. Menurut Bapak Uskup Frans Lieshout OFM telah Berevangelisasi dan Berpastoral dengan Hati. Ia menilai Almarhum Pastor Frans Lieshout, OFM telah memaknai Pastoral kehadiran bukan hanya sekedar ada ditengah Umat, tetapi mengenal dan dekat dengan mereka, mencari tahu tentang pandangan hidup mereka dan merasakan makna kemanusiaan dalam adat istiadat mereka dan dalam ritus-ritus kehidupan dan kematian mereka. Dalam kebiasaan hidup dan budaya mereka, Frans Lieshout melihat bahwa benih-benih Injil sudah ada. Karena itu dia tidak ceroboh menghancurkan berang-barang budaya sebagai tanda kekafiran seperti yang dibuat oleh misionaris tertentu dari gereja lain; tetapi ia mengamati dan menemukan benih-benih sabda yang ada di dalamnya dan berusaha menumbuhkannya.

Sungguh menarik membaca buku ini Pastor Frans Lieshout,  OFM “Gembala dan Guru bagi Papua” kesaksian Pimpinan Gereja Sahabat Keluarga dan Anak Cucu Rohani’  benar benar sedih, tangis, duka, bahkan mengedukasi para pembaca dengan kalimat dan paragraf yang sederhana dan mudah dipahami.

Bahkan para penulis sebagian besar pernah mengalami berbagai peristiwa bersama-sama Pastor Frans Lieshout, OFM semasa karya dan Bhaktinya menceritakan berbagai kesaksian dan pandangan hidup bersama, sehingga kehadiran buku ini benar benar menceritakan Seperti apa karya dan baktinya sosok Pastor Frans Lieshout OFM dibumi Cenderawasih diatas Tanah Papua.

Melalui buku ini  Pastor Yanuarius Motopai You, Pr dan penulis – penulis lain memperjelas siapa sosok Pastor Frans Lieshout OFM dan arti kehadirannya di tengah masyarakat Hubula. Ia menyebut Pastor Frans Lieshout sebagai Ap Kain, Sang Gembala yang mempersatukan umat dan membentuk ikatan emosional yang sangat mendalam dengan umat yang digembalakannya.

Bagi Yanuaris Motopai Yoi sosok Pater Frans ini  menjadi figur seorang Bapak yang penuh kasih bagi orang Hubula, selalu baik hingga menutupi segala kelemahan.

“Dia lebih sebagai pemimpin rohani yang mengantarkan umat kepada Ap Kain lebih Besar (Tuhan Yesus Kristus) yang telah diwartakan melalui Allah Wene, Hono, agar masyarakat Hubula beroleh keselamatan berkat iman akan Yesus Kristus,” (RD Yanuaris Motopai Yoi dalam Buku Pastor Frans Lieshout, OFM Gembala dan Guru Bagi Papua)

Sementara itu, RD Yanuarius Dou, Pr menceritakan tantangan Pater Frans Lieshout OFM di Tanah Papua. Menurutnya Pastor Frans adalah pribadi yang missioner sejati. Hal itu terlihat cara ia mewartakan, sikap dan tindakan kerasulannya sejak pertama kali menginjakan kaki di Tanah Papua.

Pastor Frans Lieshout, OFM menghadapi tantangan yang tidak sedikit. Diantaranya tantangan bahasa, budaya, medan Pastoral kebutuhan pelayanan pastoral, keterisolasian wilayah, tangan peran suku dan aneka macam Tantangan lainnya. Tetapi akhir dari tantangan Pater Frans memberi kesaksian setelah mempelajari bahasa, budaya, kekayaan alam nilai-nilai budaya yang kudus dan sakral sudah lama lama hidup dan menyatu bersama masyarakat Papua. Masyarakat Papua dijumpai begitu kompak, polos, terbuka, jujur, dan ungkapkan diri mereka apa adanya. Kemudian memadukan dengan nilai – nilai Injil & kekayaan budaya orang Papua melalui proses inkulturasi Gereja. (RD Yanuarius Dou, Pr dalam Buku Pastor Frans Lieshout, OFM Gembala dan Guru Bagi Papua)

Buku Pastor Frans Lieshout, OFM “Gembala dan Guru Bagi Papua” ditulis oleh Markus Haluk, dkk.

Sungguh menarik membaca buku Pastor Frans Lieshout,  OFM “Gembala dan Guru bagi Papua” kesaksian Pimpinan Gereja Sahabat Keluarga dan Anak Cucu Rohani’. Buku ini mengungkapkan hubungan emosional yang sangat mendalam antara umat Katholik terutama yang berasal dari Lembah Agung Balim dengan Frans Lieshout OFM (Almarhum).  Ada rasa benar benar sedih, tangis, duka, bahkan mengedukasi para pembaca dengan kalimat dan paragraf yang sederhana mudah dipahami dan penuh makna.

Pastor Frans Lieshout,  OFM “Gembala dan Guru bagi Papua” kesaksian Pimpinan Gereja Sahabat Keluarga dan Anak Cucu Rohani’, ditulis oleh  Bapak Markus Haluk, et all.  Ada 70 kesaksian dari Pemimpin Gereja, Tokoh Gereja, Tokoh Awam, Tokoh Perempuan, Sahabat, Keluarga dan Anak Cucu Rohani. Buku setebal 652 halaman ini diterbitkan oleh  SKPKC Fransiskan Papua, dengan Nomor ISBN 978-62-39-433802 Cetakan pertama Agustus 2020 dan Cetakan kedua, September 2020.

Buku ini saya rekomendasikan kepada siapa saja tanpa membedakan latar belakang,  status sosial dan kepercayaan untuk dibaca dan dipahami, semoga bermanfaat. KOHA.

Review oleh Andi Gobay

Kategori:Citizen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.