Citizen

Review Buku Maximus & Gladiator Papua; Perjuangan Anak Koteka Hingga Berhasil Membangun Bisnis Kelas Dunia

Di usia 7 tahun menjadi anak  yatim piatu,  belum genap 10 tahun menjadi tukang kebun di Tembagapura, dan saat usia belia sanggup membeli rumah sendiri.

Buku berjudul Maximus & Gladiator Papua ini mengisahkan perjalanan hidup Maximus Tipagau, anak koteka yang lahir di Kampung Bulapa, Distrik Ugapa, Intan Jaya.  

Buku setebal 424 halaman ini, memaparkan dengan gamblang perjalanan hidup Maximus yang terjal berliku. Sejak kecil hidupnya sulit dan pahit. Di usia 7 tahun ia telah menjadi anak yatim piatu.

Ayahnya, Nico Tipagau adalah seorang panglima perang yang disegani dari desa Ugimba dan ibunya bernama Milian Kobogau, putri kepala suku dari desa Bulapa.

Desa Ugimba dan Bulapa, adalah berada di kisaran ketinggian 4000 mpdl dengan kemiringan hingga 60 derajat. Wilayah yang terletak di ‘halaman belakang’ Freeport adalah daerah yang terpencil dan terisolir. Berjarak beberapa kilometer dari puncak Cartenz. Daerah ini di huni oleh Suku Moni.

Maxi kecil dididik oleh orang tuanya untuk menjadi pekerja keras. Kerja dulu baru makan, demikian katanya dalam buku ini. Setiap pagi ia membantu mamanya mengisi air sebelum berangkat ke sekolah dan harus berjalan berkilo-kilo meter untuk sampai disekolah.

Ayahnya memiliki harapan besar agar suatu saat nanti ia menjadi panglima perang seperti ayahnya dan kakek buyutnya, namun kelak ketika ia dewasa ia menjadi menjadi ‘panglima perang’ di medan yang berbeda, yakni bisnis.

Duduk di kelas 4 SD, Maximus masih belum bisa membaca, menulis dan belum fasih berbahasa Indonesia. Ia terpaksa putus sekolah setelah kedua orang tuanya meninggal.

Meski punya nenek, Maximus memilih hidup sendiri. Ia mencari pekerjaan apapun untuk menghasilkan uang. Ia mengangkut tas geolog asing yang melakukan penelitian di desanya, menjadi porter di lapangan terbang dan mengangkut sayuran dengan jarak tempuh berkilo-kilo meter.

Di usia yang belum genap 10 tahun Maxi mencoba melamar pekerjaan di Tembagapura, kawasan Freeport. Meski, beberapa kali ia diusir sekuriti, ia tak kehilangan akal. Karena kegigihannya Maximus pun diterima bekerja sebagai tukang kebun di kompleks pejabat tinggi Freeport.

Di usia 14 tahun, Maximus ‘nekat’ untuk melamar bekerja di Freeport, meski tak tamat sekolah, bahkan ijazah SD pun tak punya. Ia pantang menyerah dan segala upaya ditempuhnya agar bisa diterima bekerja di Freeport.

Maximus & Gladiator Papua, Penulis: Maximus Tipagau

Buku ini bercerita tentang bagaimana Maximus pantang menyerah meyakinkan orang – orang disekitarnya bahwa ia layak untuk dipekerjakan, bagaimana ia belajar untuk meningkatkan karir dari tukang parkir truk raksasa hingga jadi operator truk raksasa, bahkan menjadi instruktur operator alat berat yang pesertanya para sarjana.

Buku ini juga menjadi pergumulan pribadinya tentang kekayaan alam Papua yang kontradiktif dengan kehidupan warganya. Sebagai Putra Papua, dari Suku Moni, dimana Freeport beroperasi di wilayah yang menjadi hak ulayat sukunya, namun hingga kini warga di Ugimba dan Bulapa masih terisolir, jauh dari akses pendidikan dan kesehatan membuatnya tergerak melakukan sesuatu.

Di akhir buku ini dikisahkan, bagaimana Maximus pada akhirnya memutuskan untuk keluar dari Freeport, membangun perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata dan bagaimana ia bekerja keras mempromosikan Cartenz Pyramid  dalam pameran wisata di berbagai negara di dunia.

Maximus & Gladiator Papua, ditulis oleh Maximus Tipagau, diterbitkan oleh Penerbit Rayyana Komunikasindo, Jakarta, dengan nomor ISBN 978-602-70792-7-4. Cetakan pertama September 2016.

Buku ini saya rekomendasikan sebagai bahan bacaan yang menginspirasi. Ada banyak kejutan dalam buku ini yang bikin haru, trenyuh dan membelalakan mata. Buku ini juga menawarkan perspektif lain tentang perjuangan hidup, tekat dan kerja keras. Keberhasilan adalah keniscayaan bagi siapapun yang berjuang dengan sungguh – sungguh.

Review by Yulika Anastasia

Kategori:Citizen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.