Jelajah Negeri

Eksotisme Negeri di Atas Lumpur @Selatan Papua

Dulu kota ini dijuluki Kota di atas papan, semua bangunan yang ada bahkan ruas – ruas jalan kota menggunakan material papan kayu sebagai bahan utamanya. Kini hampir semua ruas jalan paving blok sudah teraspal.

Bandara Ewer Asmat

Agats, ibukota Kabupaten Asmat memiliki kondisi geografis yang berbeda dengan daerah lain di Papua. Kota kecil di Selatan Papua ini tampil menawan di atas lautan lumpur yang mengelilinginya.

Untuk sampai di Kota Agats, perjalanan yang harus dilalui lumayan panjang dan cukup mengasyikkan. Rute yang saya tempuh ialah dari Jayapura – Timika menggunakan pesawat berbadan besar (boeing). Transit sejenak di Timika, perjalanan pun dilanjutkan dengan menggunakan pesawat twin-otter menuju bandara Ewer, Kabupaten Asmat yang berjarak tempuh kurang dari 1 jam penerbangan. Dari bandara Ewer menuju Agats, diperlukan waktu 20 menit perjalanan menggunakan speedboat melintasi sungai Ewer untuk masuk ke dalam kota.

Ketika pertama kali mengunjungi kota ini, saya merasa takjub dengan suasana kota dan gaya hidup warga disini.

Semua bangunan yang ada di kota ini berdiri kokoh di atas lumpur. Perumahan warga, pertokoan, perkantoran hingga infrastruktur jalan, dibangun diatas tiang – tiang pancang yang menancap kokoh dalam rawa – rawa.

Ruas jalan di kota Agats, Kabupaten Asmat

Alat transportasi utama yang ada di kota ini ialah motor listrik. Dan, betapa terpesona-nya saya ketika melihat motor – motor listrik melintas di jalan raya. Sepintas lalu penampakannya mirip dengan motor matic, hanya saja motor listrik ini di charge sama seperti saat kita mengisi baterai ponsel. Jika baterainya full, motor listrik ini tahan hingga 8 jam.

Ruas jalan raya di Agats tidak terlalu lebar, hanya sekitar 5 meter saja lebarnya. Kendaraan motor listrik melaju bebas di jalan raya, kecepatan maksimalnya 20 – 40km/ jam. Ruas jalan di Agats cukup ramah pejalan kaki, kendaraan melaju tidak kencang dan biasanya pengendara akan menghormati pejalan kaki yang sementara melintas.

Di kota Agats, tak ada mobil/ kendaraan roda 4 yang melintas. Satu – satunya mobil yang ada hanyalah mobil ambulance miliki RSUD Asmat. Kendaraan berbahan bakar minyak (BBM) pun jumlahnya terbatas, yakni kendaraan roda 3 (motor viar) untuk mengangkut barang dan beberapa unit motor patroli milik polres Asmat.

Uniknya, kendaraan motor listrik nyaris tanpa suara saat melaju di jalan raya, sehingga tidak bising. Motor listrik ini juga digunakan sebagai angkutan umum alias ojek yang siap mengantar penumpangnya kemana saja di dalam kota.

Kisah Pastor Jan Smith yang Melegenda

Patung Pastor Jan Smith tegak berdiri di dermaga Agats

Jika mengunjungi Agats, anda akan disambut oleh patung Jan Smith yang kokoh berdiri di dermaga menghadap ke arah sungai. Siapakah Jan Smith? Bagi warga Agats, kisah Pastor Jan Smith pastilah tidak asing di telinga mereka.

Pastor Jan Smith, adalah sosok misionaris Katolik yang yang menjadi korban pembunuhan pada 28 Januari 1965 karena alasan sektarianisme di Kabupaten Asmat.

Ia giat memperjuangkan pendidikan di Asmat dengan mendirikan sekolah di Pirimapun. Rupanya pada waktu itu hal ini menimbulkan ketidaksukaan/ ketersinggungan Kepala Pemerintahan Setempat (KPS), dan meminta pastor Jan Smith menutup sekolah. Ujung konflik ini ialah terbunuhnya Sang Pastor karena sikapnya yang kokoh mempertahankan sekolah.

Sebelum ajal menjemputnya, konon kabarnya Sang Pastor bersumpah wilayah ini selamanya akan basah dan menjadi rawa – rawa. Kisah ini pun dituturkan dari mulut ke mulut di kalangan masyarakat. Sosok Pastor Jan Smith ini kemudian dikenang dalam bentuk patung di pinggir pelabuhan Agats. Selain itu nama sang Pastor juga diabadikan sebagai nama sekolah di Agats. (sumber: http://ucanews.pairserver.com/โ€ฆ/dioceโ€ฆ/html/dps-ij_agats.php)

Jembatan Gantung Kebanggaan Warga Asmat

Jembatan Gantung Kali Famreb

Jembatan gantung dari beton ini berdiri kokoh di atas kali Famreb dan cukup ikonik. Menyebrangi jembatan ini mengingatkan saya pada jembatan gantung yang berada di Wamena.

Sebenarnya jembatan ini adalah jembatan penyebrangan, hanya saja pemandangan di tempat ini sangat indah, jadi ketika sore hari tiba menarik minat kami untuk menikmati panorama alam di tempat ini.

Tak jauh dari jembatan ada Kampung Pelangi yang sementara ini diarahkan untuk menjadi kampung wisata.

Sejenak menikmati suasana Agat berikut tantangannya

Agats, ibu kota Asmat dengan alat transportasi perahu dan motor listrik sebagai kendaraan utama

Asmat, salah satu kabupaten yang terletak di Papua Selatan dimana wilayahnya adalah rawa – rawa. Tantangan terbesar warga disini ialah ketersediaan air bersih. Hingga saat ini, air hujan masih menjadi sumber air bersih yang utama.

Jadi tak mengherankan, ketika menginap di hotel pun, jumlah air untuk mck pun terbatas. Sementara, untuk air minum biasanya warga mendatangkan air mineral alias air dalam kemasan.

Selama beberapa hari tinggal di Agats, saya pun ikut beradaptasi dengan kondisi alam disini, yakni menggunakan air hujan yang disediakan oleh penginapan untuk mandi. Begitu pula saat makan di warung, beberapa orang penjual pun menggunakan air yang sama untuk mencuci dan masak.

Kerajinan Tangan menjadi Souvenir Khas yang berkesan

Patung Kayu Khas Asmat

Mengunjungi Asmat tak lengkap rasanya jika tak membawa kerajinan tangan Asmat yang telah mendunia.

Yup, sejak dulu Asmat terkenal akan karya seni patung atau ukirannya. Sebagian kerajinan tangan dapat dilihat di Museum Kebudayaan dan Kemajuan di distrik Agats. Berbagai karya seni yang luar biasa ini dapat dinikmati disini.

Jika Anda berkesempatan menyaksikan langsung bagaimana pengrajin Asmat menghasilkan karyanya, dipastikan anda akan terpesona dengan daya visualisasi dan kecerdasan mereka yang terpatri dalam setiap detail hasil karyanya.

Untuk harga hasil kerajinan tangan seperti noken Asmat, pahatan, ukiran dll sangat bervariasi, dari ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Kerajinan tangan ini cocok untuk menjadi buah tangan yang berkesan.

Jalan di perkampungan dengan rerindangan pepohonan yang asri.
Kota di atas papan November 2019

Kategori:Jelajah Negeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.