SEPENGGAL KISAH DARI KAMPUNG SEIMA, YAHUKIMO

“Apa yang dilakukan dari hati akan sampai ke hati”

Kampung Seima, Distrik Mugi termasuk wilayah Kabupaten Yahukimo. Kampung ini cukup terisolir, saat ini pemerintah tengah berupaya membangun infrastruktur jalan. Akses yang paling cepat menuju tempat ini yakni menggunakan helikopter dari Bandara Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Dan, beruntung saya berkesempatan untuk mengunjungi Kampung Seima bersama rombongan kecil Bupati Yahukimo, Bapak Abock Busup pada November 2018.

“Seima”, nama yang jarang terdengar bagi orang dari luar, tapi pasti familiar bagi masyarakat lokal. Seima, yang ‘dekat tapi jauh’ dan ‘jauh sebenarnya dekat’.

Untuk mencapai Kampung Seima, jika menggunakan perjalanan darat medannya sangat berat, yakni melalui jalan terjal di urat – urat pegunungan. Jika melalui jalur udara, diperlukan waktu sekitar 10 menit perjalanan dari Wamena menggunakan helikopter. Oh ya, biaya carter helikopter juga tidak murah, sekitar 30 juta rupiah dengan kapasitas 5 penumpang.

Saya berfoto bersama Bupati Yahukimo, Bpk. Abock Busup, Ketua Persekutuan Gereja – Gereja  Yahukimo, Bpk. Matuan (berbaju biru) dan Pilot Helikopter di Bandara Wamena sebelum berangkat ke Kampung Seima

Perjalanan ini sangat mengesankan bagi saya, karena ini pengalaman saya pertama kali naik helikopter. Namun, dibalik itu semua ada kesedihan. Ya, saya merasakan betapa sulitnya hidup warga Kampung Seima. Tanpa akses jalan yang memadai, sulit bagi warga untuk mendapatkan fasilitas kesehatan, pendidikan, belum lagi tingkat kemahalan harga barang yang harus dihadapi warga sehari – hari.

Saya teringat cerita pak Bupati tentang warga yang tengah bergotong royong membangun gereja atau pustu. Bahan bangunan seperti semen, harus didatangkan dari kota. Untuk itu warga harus memikul semen dari kota melewati gunung dan jurang yang terjal. Biaya pikul pun luar biasa, yakni mencapai 1 juta rupiah. Mana yang lebih tepat: fantastis atau miris? Terkadang tukang pikul harus menginap dijalan untuk membawa semen atau material bangunan lainnya.

Untuk itulah, pemerintah Kabupaten Yahukimo tengah berupaya membuka dan membangun infrastruktur jalan, agar masyarakat di pelosok negeri sekalipun dapat terlepas dari keterisolasian dan merasakan pembangunan.

Bupati Yahukimo, Abock Busup, saat mengunjungi Kampung Seima pada November 2018 disambut oleh warga. Kunjungan ini dalam rangka kegiatan Konfrensi ke-2 Klasis Siep Asso Sinode Gereja Kemah Injili.

Dalam kunjungan singkat tersebut, secara pribadi saya mendapatkan pengalaman dan kesan yang luar biasa.
Warga menyambut rombongan kecil kami dengan sangat ramah. Pesta bakar batu disiapkan untuk moment istimewa tersebut.

Ada sentuhan kecil yang membuat saya terharu ketika berinteraksi dengan kaum wanita Kampung Seima. Seorang perempuan muda, tersenyum ramah dan menawarkan diri untuk mendandani saya agar sama seperti dandanan mereka. Moment tersebut dapat disaksikan melalui video berikut:

Berdandan ala kaum wanita Kampung Seima: menggunakan noken di kepala dan sera (mahkota)

Dalam kunjungan singkat ini, terselip sebuah harapan semoga saudara-saudariku yang tinggal di Kampung Seima, segera terlepas dari keterisolasian, merasakan buah – buah pembangunan sarana dan prasarana seperti fasilitas pendidikan, kesehatan, listrik dan barang – barang kebutuhan sehari – hari yang mudah didapatkan dengan harga yang manusiawi.

One thought on “SEPENGGAL KISAH DARI KAMPUNG SEIMA, YAHUKIMO”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.