Jelajah Pedalaman Papua Bag. 1 – Perjalanan Menuju Lembah Kamuu

Menempuh perjalanan darat menuju ke wilayah pedalaman Papua, itu sesuatu banget buat saya!

Awal Juli 2018, saya diminta untuk ikut bergabung dengan rombongan tim kopi dari Jakarta, melakukan perjalanan ke wilayah Meepago, yakni Moanemani (Kab. Dogiyai), Waghete (Kab. Deiyai) dan Enarotali (Kab. Paniai) di Provinsi Papua.

Dari Kota Nabire kami menggunakan kendaraan roda empat yang disewa. Perjalanan di tempuh dalam waktu kurang lebih 6 jam perjalanan melintasi perkampungan warga, hutan, gunung dan lembah.

Saya merasa sangat senang dengan perjalanan ini, karena memang inilah kali pertama saya melakukan perjalanan darat di wilayahnya suku Mee (Meepago). Akses jalan yang dibangun teraspal cukup bagus, meski di beberapa mengalami kerusakan.

Lalu lintas sepanjang jalan raya Nabire – Dogiyai pun cukup ramai dilalui oleh kendaraan. Namun kalian jangan kaget, angkutan plat kuning yang beroperasi di wilayah ini umumnya mobil fortuner, hillux dan beberapa kijang inova.

Sepanjang perjalanan mata puas memandang indahnya panorama alam yang masih asri. Terkadang di bumbui dengan adrenalin yang meningkat, karena melewati ruas jalan yang rusak nan terjal dengan jurang yang sangat curam di sebelah sisinya.

Sopir yang mengantar kami, Irwan, bertutur jalan telah teraspal sejak tahun 2013. “Sebelum jalan diaspal, dulu saya biasa mengantar penumpang ke dogiyai, kami memerlukan waktu 5 hari lamanya. Sekarang, hanya sekitar 6 jam perjalanan saja.”

Wah, dari ceritanya saya membayangkan untuk jarak Nabire – Dogiyai yang hanya sekitar 200 km, dulu waktu tempuhnya sangat lama. Syukurlah akses jalan kini semakin mudah.

Sepanjang perjalanan, meski komunikasi lewat telepon masih bisa dilakukan, namun nyaris tanpa akses internet. Terlihat di tepi jalan, sedang dilakukan pengerjaan penggalian kabel fiber optik.

“Akses internet di sini susah mbak, semoga dalam waktu dekat setelah kabel fiber optik terpasang, internet juga kencang, dan komunikasi lewat whatsapp tidak terhambat,” harap Irwan.

Setelah setengah perjalanan, tepatnya di km 100, kami pun beristirahat di rest area. Rest area yang dimaksut ialah rumah – rumah makan yang berjajar di sepanjang jalan. Di tempat inilah biasanya sopir – sopir angkutan berikut penumpangnya beristirahat sejenak. Kami pun turun untuk makan siang.

rest area2
Rest Area – Rumah Makan di km 100, Jalan Raya Nabire – Dogiyai

Setelah beristirahat selama 30 menit, perjalanan pun dilanjutkan. Pada km 122, ada pemandangan yang sangat menarik, sehingga kendaraan yang membawa rombongan pun menepi.

Tak jauh dari badan jalan, terdapat air terjun setinggi lebih kurang 20 meter. Tak menyia – nyiakan moment, saya pun mengabadikan gambar di air terjun yang kabarnya belum memiliki nama ini. Dan sepertinya, air terjun ini menjadi sebuah tempat favorit untuk beristirahat sejenak bagi mereka yang melakukan perjalanan di ruas jalan ini.

 

 

Dari lokasi air terjun menuju ke Moanemani, ibu kota Kabupaten Dogiyai yang terletak di Lembah Kamuu, dibutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan. Perjalanan bisa menjadi memakan waktu lebih panjang jika kita terhambat longsor.

Kata sopir yang mengantar kami, di daerah ini cukup sering terjadi longsor yang menutup badan jalan. Jika hal tersebut terjadi, berarti dibutuhkan waktu lebih lama (bisa beberapa jam) karena menunggu alat berat datang untuk membersihkan material longsoran. Duh, cukup ribet yaaa…ditambah lagi jika longsor terjadi di daerah yang tak ada sinyal telepon alias blank spot, pastilah memakan waktu yang jauh lebih lama untuk menghubungi operator alat berat.

Beruntung, perjalanan yang dilakukan lancar tanpa kendala yang berarti. Hanya di km 147, saya sempat sport jantung karena harus melalui jalan yang menikung 45 derajat dengan tanjakan yang sangat curam. Sopir – sopir angkutan di wilayah ini, sangat kenal dengan area ini dan biasanya mereka akan sangat berhati – hati dengan ruas jalan yang satu ini.

Nah, setelah beberapa jam lamanya, akhirnya kami memasuki Kabupaten Dogiyai. Dari ketinggian kami melihat Lembah Kamuu yang menghampar luas dikelilingi oleh pegunungan. Di sanalah letak distrik Moanemani, yang kini berkembang menjadi ibu kota Kabupaten Dogiyai.

Rasa penat di sepanjang perjalanan, terbayarkan tuntas dengan hamparan keindahan sejauh mata memandang.

Berikut foto – foto Lembah Kamuu, Kabupaten Dogiyai

lembah kamuu 2
Moanemani di Lembah Kamuu, Kabupaten Dogiyai
lembah kamuu 6
Lembah Kamuu, Kabupaten Dogiyai

 

lembah kamuu 1
Lembah Kamuu, Kabupaten Dogiyai

 

Baca juga:

Jelajah Pedalaman Papua Bag. 2 – Nikmatnya Menyeduh Kopi Langsung dari Lumbungnya

Jelajah Pedalaman Papua Bag. 3 – Menyapa Anak – Anak Kabut Kampung Modio di Mapia Tengah

Jelajah Pedalaman Papua Bag. 4 – Menelusuri Emas Hitam dari Meepago

9 tanggapan untuk “Jelajah Pedalaman Papua Bag. 1 – Perjalanan Menuju Lembah Kamuu”

      1. Terima kasih infonya, reviewnya membantu banget mbak. Sy plan mau ke deiyai akhir bulan juli ini, selain darat ada akses udara juga gak ke deiyai? skalian kalo punya info tentang alamat dan nmor kontak Dinas Pekerjaan Umum Kab. Deiyai…🙏🙏

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s